Jumat, 04 September 2015

Sebatang Pohon Pisang

Senja yang merah merona menerpa pilu di dalam hati. Deruan angin senja sontak berteriak di telinga, seolah-olah mengingatkan derita yang tengah ku jalani. Beberapa bulan yang silam pertemuan yang tak kusadari menjadi petaka bagi diriku. Pertemuanku  dengan sesosok anak yang begitu ramah , baik dan jujur. Sopan dan elok budi. Kesopanan dan keramahannya membuat semua orang mudah bergaul dan mengenalnya. Pertemuan itu berawal saat aku bersekolah disebuah boarding ternama. Disana aku diberi kepercayai menjadi kakak kamar yang mengurus dan mengatur adik-adik tingkat. Kebiasaan sehari-hari ku membantu anak-anak yang sakit dan mengambilkan obat-abat. Setiap hari aku berkeliling dari satu kamar ke kamar lain dan bertanya tentang keadaan mereka satu persatu. Terkadang ku lemparkan sebuah senyuman dan sedikit canda agar mereka tidak larut dalam sakitnya. Tak jarang pula ku menjadi teman curhat dan berbagi duka dengan mereka.
          Hari itu aku datang ke sebuah kamar yang tertata rapi bersih dan indah namun sedang sepi karena sedang proses belajar di kelas. Ketika aku beranjak masuk, ku menemukan seorang anak yang terbaring lemah dalam kesepian. Dia terbaring ditutupi sehelai selimut dan ditemani sebuah bantal guling yang mulai terlihat kumal. Sekeliling kamar tidak ada seorang pun yang bisa membantu dia kalau terjadi hal yang tak diinginkan.
Selangkah demi selangkah ku yakinkan hati untuk coba mendekatinya, namun ku takut dia akan merasa terganggu dengan kehadiranku. Sekilas terlihat wajah yang begitu elok, lembut dan kulit yang bersih. Kehadiranku ternyata disambut dengan sebuah senyuman yang begitu tulus dari dalam hatinya. Tak begitu lama kami pun terlarut dalam sebuah percakapan dan canda tawa. Dia merupakan salah seorang anak yang berprestasi di kelas dan di segani oleh teman-temannya. Memiliki banyak teman dan potensi dalam diri.
         Hari itu bagai sebuah mimpi, aku seakan-akan merasakan kelahiran dari seorang saudara kecil dalam kehidupan. Senyumnya yang elok dan tutur katanya yang baik sontak mengingatkanku pada adik kecil ku yang tinggal bersama ibu di kampung halaman. Setiap melihat dirinya, terasa adikku sedang bersamaku. Ketika makan dan minum ku sengaja berbagi dengannya agar apa yang ku rasakan juga dia rasakan. Kian hari dan berjalannya waktu kami begitu dekat seperti saudara yang terlahir dari ayah dan ibu yang sama. Tiada hari dan waktu yang dilewati dengan kebersamaan, canda dan tawa. Ketika dia sakit seolah-olah diriku juga merasakan sakit yang dia alami. Ketika dia sedih hatiku terasa ikut tergores luka yang dia rasakan.
         Terkadang di kesibukan ku senyum dan tawanya mengurangi rasa lelah di pundak. Banyak hal yang berubah sejak kami bertemu. Aku tak lagi menganggap dia orang lain tetapi dia adalah saudara kecilku yang akan kujaga seperti saudaraku yang lain.
Namun sekarang hubungan saudara itu tinggal kenangan. Karena dibalik kebaikan dan kedekatannya terdapat maksud yang lain. Belakangan aku sering dapat cerita yang tidak baik tentangnya, semua itu dia lakukan diam-diam tanpa ku sadari. Bercerita keburukan dan hal yang tidak baik kepada orang lain. Menggunakan kepercayaan yang ku berikan untuk hal yang tidak benar. Namun di depan ku tetap terlihat baik, ramah dan sopan. Aku tidak yakin hal itu, semua seakan-akan hanya sebuah cerita yang di buat oleh orang-orang yang tidak menyukai persaudaraan kami.
          Sekarang Tuhan menyadarkan ku dari panggung sandiwara dan drama kebohongan yang dia mainkan. Satu persatu keburukannya mulai tercium olehku. Perlahan-lahan ku mulai mengamati dan menyelidikinya.
 Subhanallah semua benar-benar terjadi. Hari itu terasa sedang di padang sahara yang begitu tandus tak bertepi yang tak akan mampu ku lalui.  Perasanku begitu hancur lebur bagai seonggok pasir diterpa ombak pasang dan bergulung-gulung terus di hantamkan ke daratan. Habis, bersih dan sirna semuanya. Tak berbekas dan bersisa sedikit pun.
          Sekarang aku merasa bagai sebatang pisang. Ketika hujan datang mendera dan  membasahi badan dia datang meminta daunku untuk dijadikan sebuah payung. Setelah hujan berlalu daunku pun dibuang begitu saja tanpa menghargai pertolonganku. Ketika dia sedang membutuhkan alat untuk membungkus nasi, dia kembali datang meminta daunku untuk dipotong dan di cabik-cabik agar dia bisa membawa nasi. Setelah rasa lapar pun hilang dengan makan yang dibungkus dengan daunku, daun ku pun dibuang begitu saja tanpa kasihan dan terima kasih. Saat dia butuh buah-buahan , dia pun datang kepadaku meminta buahku. Karena ku tak sanggup melihat dirinya sedih dan menderita, ku berikan semua buah untuknya, walau aku sadar jika kelak buahku di ambil pastilah aku akan ditebang. Namun setelah semua itu dia dapatkan batangku pun dibuang di tempat sampah tanpa ada sedikit belas kasihan dan rasa terima kasih. Namun aku yakin pada sebuah janji Tuhan,jika kita memberikan satu kebaikan pada orang lain Tuhan akan membalasnya dengan kebaikan.
            Sekarang aku ikhlas untuk semuanya, biarlah Tuhan ku yang akan membalas dan menyadarkannya. ...aminnnnnnnnnn..

Gubahan H